Kilas Balik Piala Dunia Brasil

Agen Judi – Berbicara tentang Piala Dunia Brasil 2014 tak bisa lepas dari faktor cuaca. Brasil memang memiliki cuaca unik, karena berada di wilayah tropis dan subtropis. Kondisi ini yang semula diprediksi akan menyulitkan pemain saat bertanding di Piala Dunia 2014, terutama bagi para pemain dari negara Eropa yang harus beradaptasi dengan suhu dan tingkat kelembaban tinggi.

Pada artikel sebelumnya (baca: Jarak yang Melelahkan di Bumi Samba dan Ancaman dari Utara Brasil), sudah dijelaskan tentang iklim Brasil dan tantangan apa yang akan dihadapi setiap pemain, terutama bagi mereka yang bermain di kota-kota sisi utara.

Kini, Piala Dunia sudah berakhir. Jerman telah keluar sebagai juara setelah mengalahkan Argentina di final. Mari melihat apakah faktor cuaca ini benar-benar berpengaruh pada jalannya turnamen.

Kesialan Italia

Beberapa pertandingan pada Piala Dunia ini berlangsung dalam kondisi cuaca yang cukup ekstrem. Italia menjadi negara yang paling sial, karena dari ketiga laga yang harus dilakoni Gli Azzuri, rata-rata suhu tidak pernah kurang dari 30 derajat celcius.

Agen Sbobet – Pada pertandingan pertama, Italia berhadapan dengan Inggris di Manaus. Saat laga digekat, suhu rata-rata kota Manaus mencapai 31 derajat celcius dengan kelembaban udara 66%. Kemudian anak-anak asuh Cesare Prandelli harus menghadapi Kostarika dan Uruguay di Recife dan Natal, yang suhu rata-rata masing-masing kota adalah 30 dan 33 derajat celcius, dengan kelembaban udara masing-masing 70% dan 45%.

Padahal, jika kita bandingkan dengan kondisi kota Roma, suhu terpanas ibu kota Italia tersebut hanya mencapai 24 derajat celcius. Maka bukan hal aneh jika anak asuh Cesare Prandelli tidak merasa nyaman saat bermain pada suhu mencapai 30 derajat celcius.

Pengaruh cuaca terhadap permainan ini diakui sendiri oleh salah satu gelandang Italia, Daniele de Rossi. Seusai pertandingan melawan Inggris, ia berkata bahwa, “Dalam cuaca ini, penguasaan bola jadi sangat penting, karena akan lebih mudah memegang bola ketimbang mencoba untuk mengambilnya kembali.”

Ucapan De Rossi ini juga merujuk pada cara lini tengah Italia bekerja sewaktu melawan Inggris di Manaus. Andrea Pirlo dan De Rossi mencatatkan jumlah umpan lebih dari 100, sementara hanya ada dua pemain Inggris yang umpannya lebih dari 50.

Selain Italia, beberapa tim lain juga mendapatkan kesempatan untuk bermain pada kondisi kurang menguntungkan. Salah satunya adalah Amerika Serikat yang bertanding pada suhu ekstrem saat melawan Portugal di grup G. Pertandingan ini lagi-lagi berlangsung di pedalaman hutan Amazon, yaitu kota Manaus. Kondisinya pun tak jauh berbeda, dengan suhu rata-rata 30 derajat celcius dengan kelembaban 66%.

Tapi, tidak semua negara sempat merasakan bertanding dengan kondisi cuaca kurang menguntungkan. Negara-negara seperti Argentina, Belgia, Aljazair, dan Iran menjalani tiga pertandingan di babak grup dalam kondisi cuaca yang sangat mendukung.

Memasuki babak 16, pertandingan Mexico melawan Belanda disebut-sebut sebagai pertandingan dengan kondisi paling ekstrem dalam Piala Dunia 2014. Suhu rata-rata di lapangan ketika itu mencapai 32 derajat celcius dengan kelembaban 68%. FIFA sampai memberi izin adanya water break pada babak pertama dan kedua agar para pemain tidak mengalami dehidrasi.

Meminimkan Sprint

Faktor fisik jadi bagian yang dikhawatirkan akan terganggu jika pertandingan dilakukan dalam kondisi suhu tidak menguntungkan. Pemain akan lebih cepat kehabisan stamina sehingga tidak bisa bermain maksimal sampai akhir pertandingan. Lalu, menurunnya kondisi fisik tentu akan menurunkan performa pemain tersebut.

Beberapa tim menyiasati kondisi ini dengan memainkan strategi yang tidak banyak melakukan aktivitas fisik berat. Dengan begitu stamina para pemain akan dapat lebih terjaga hingga akhir pertandingan. Misalnya saja dengan mengurangi sprint.

Agen Judi – Melihat data yang disajikan FIFA di situs resminya, dari 48 pertandingan yang terjadi di fase grup, rata-rata satu tim melakukan sprint sebanyak 353 per pertandingan. Jumlah rata-rata ini hanyalah jumlah saat fase grup. Di tulisan ini saya tidak menggabungkan data pada babak knock out, karena pada fase tersebut terdapat pertandingan yang berlangsung hingga babak perpanjangan waktu.

Jumlah sprint paling banyak dalam satu pertandingan dilakukan para pemain Chili saat menghadapi Australia dengan 475 kali sprint, sedangkan angka terkecil dilakukan oleh Italia saat pertandingan terakhir pada fase grup melawan Uruguay. Pada pertandingan itu, Andrea Pirlo dan kawan-kawan hanya melakukan 264 kali sprint (dengan catatan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kartu merah Claudio Marchisio yang diterima pada menit 59).

Jika kita bandingkan jumlah rata-rata sprint tersebut dengan kondisi cuaca saat pertandingan, catatan dari beberapa negara menunjukan hasil yang menarik.

Negara pertama adalah wakil Afrika yang memberikan kejutan di Piala Dunia kali ini, Aljazair. Secara tidak terduga Aljazair berhasil lolos ke 16 besar sebagai runner up grup H dan menyingkirkan Korea Selatan dan Rusia.

Pada pertandingan pertama, Aljazair bermain pada kondisi cuaca kurang menguntungkan. Pasukan Valid Halihodzic berhadapan dengan Belgia pada suhu 30 derajat celcius. Ketika itu, para pemain Aljazair total hanya melakukan sprint sebanyak 294 kali.

Sementara itu, pada dua pertandingan setelahnya, Aljazair mendapatkan kesempatan untuk bermain pada suhu yang lebih menguntungkan. Saat melawan Rusia mereka bermain pada suhu 21 derajat celcius dan saat melawan Korea Selatan mereka bermain pada suhu 23 derajat celcius. Hasilnya, pada kondisi ini mereka melakukan sprint dalam satu pertandingan hingga 440 dan 419 kali.

Selain Aljazair, negara-negara yang tergabung di grup D juga menunjukan kecenderungan serupa. Grup D memang merupakan grup yang cukup banyak menjalani pertandingan dalam suhu dan kelembaban tinggi. Baik Inggris, Italia, Uruguay, dan Kostarika mengakali kondisi cuaca yang tidak menguntungkan dengan mengurangi aktivitas fisik tinggi pada saat pertandingan.

Agen Casino – Saat Italia dan Inggris bertemu, keduanya hanya melakukan sprint sebanyak 301 kali, jauh di bawah rata-rata sprint dalam satu pertandingan. Begitu pula saat Italia bertemu Uruguay di pertandingan penentuan grup. Italia mencatatkan jumlah sprint terendah sepanjang babak grup, yaitu 264 kali sementara Uruguay hanya 281 kali.

Kondisi menjadi berbeda ketika tim-tim ini bertandingan di suhu bersahabat. Misalnya saja saat Inggris melawan Uruguay dengan suhu pertandingan 12oC. Pada kondisi ini, kedua tim sama-sama melakukan sprint dengan jumlah di atas rata-rata, yaitu 404 kali untuk Uruguay dan 384 Inggris. Begitu pula dengan Kostarika, negara ini baru bisa melakukan sprint dengan jumlah banyak saat melawan Inggris ketika suhu pertandingan 24oC.

Meski begitu, ada juga negara yang tidak terpengaruh oleh cuaca saat pertandingan. Pada negara-negara ini, tidak terlihat perbedaan tingkat aktivitas fisik saat kondisi cuaca bersahabat maupun tidak.

Salah satu negara yang menunjukan hal ini adalah sang juara, Jerman. Tim Panser sempat bermain dalam suhu kurang menguntungkan melawan Ghana. Namun, ternyata, pasukan Joachim Low justru melakukan sprint paling banyak pada pertandingan ini.

Begitu pula dengan Chile. Alexis Sanchez dan kawan-kawan seperti tidak mempedulikan kondisi cuaca dengan sering melakukan sprint dalam di setiap pertandingan. Bahkan catatan rekor sprint terbanyak dalam fase grup yang dicatatkan Chile terjadi saat mereka bermain pada suhu 30 derajat celcius.

Sebelum datang ke Brasil, Jerman sendiri sempat melakukan pemusatan latihan di pegunungan Alpen yang terletak di utara Italia. Mereka berlatih selama 10 hari di ketinggian 1000 meter untuk meningkatkan stamina.

Selain itu, Jerman juga memilih kota Santa Cruz sebagai markas. Selain terletak lebih ke utara, kota ini memiliki cuaca tropis dan memiliki tingkat kelembaban yang lebih tinggi. Jerman memilihnya sebagai cara untuk melakukan aklimatisasi. Bandingkan dengan tim-tim lain yang lebih memilih kota di selatan Brasil untuk mengincar cuaca yang lebih dingin.